Batik Indonesia Semakin Tenggelam?

Indonesia dikenal dengan negara sejuta budaya. Kebudayaan yang beraneka ragam bertaburan menghisi setiap pulau-pulau di penjuru nusantara. Kekayaan budaya Indonesia menjadi daya tarik yang membuat dunia terkagum-kagum  dengan keindahannya. 

Salah satu budaya asli Indonesia yang sukses meraih popularitas di mata dunia adalah batik. Motif dan corak batik yang sarat akan unsur estetika menarik perhatian setiap pasang mata yang memandangnya. Batik seperti berlian berharga yang menjadi kebanggaan bangsa.

Benda berharga tentu harus dijaga agar tidak dicuri orang. Begitu pula dengan batik  harus dilindungi dan dicintai kalau tidak ingin "disabet" orang lain. Batik yang termasyhur di seantero jagad kini tidak hanya datang dari Indonesia, melainkan juga banyak dibuat di China. Meski China tidak mengklaim batik sebagai kebudayaan negerinya, tetapi batik buatan China dapat mengancam keberadaan batik tanah air.

Batik Indonesia Memang Berkualitas, tapi Harganya?

Batik China banyak diminati karena harganya yang murah.
Sumber: republika.co.id
China yang terkenal sebagai negara industri pembuat barang-barang tiruan berharga murah, tetapi seringkali mengabaikan kualitas ini juga memproduksi batik. Berbeda dengan batik buatan Indonesia, batik hasil produksi China ini dibuat dengan cara dicetak atau print. Harganya memang jauh lebih murah, namun kualitas batik cetak China kalah jauh dibandingkan batik yang lahir dari keterampilan tangan-tangan anak negeri.

Batik Indonesia lebih mengunggulkan kualitas, tetapi batik China menawarkan harga yang ekonomis. Memang sulit bagi konsumen untuk memilih membeli batik cetak dari China atau batik tulis dan cap dalam negeri. Sebagai bentuk nasionalisme, konsumen sebaiknya membeli produk dalam negeri. Tetapi setelah mengintip isi dompet, membeli batik tulis hanyalah sebuah angan-angan. Pasalnya, harga batik tulis dan batik cap asli Indonesia harganya berkisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah, jauh lebih mahal dari batik China. Terpaksa, batik cetak menjadi pilihan karena sesuai dengan isi kantong.

Begitulah kiranya kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk tidak hanya adat dan budayanya, tetapi juga kemampuan ekonominya. Jika batik produksi anak bangsa memasang harga selangit, maka masyarakat bawah tidak akan mampu menjangkaunya. Alangkah tidak adil bila batik hanya diperuntukkan bagi orang mampu, sedangkan rakyat kecil yang juga cinta batik harus gigit jari.

batik China menjadi pilihan bagi masyarakat kelas bawah yang ingin tampil "Indonesia banget" dengan berbatik. Tetapi dengan menggunakan batik selain dari Indonesia, kesan "Indonesia banget" tidak dapat dirasakan paling tidak dalam hati nurani pemakainya. Namun apa boleh buat? Finansial yang lemah memaksa mereka membeli batik tiruan.

Banyaknya konsumen batik yang memilih membeli batik China daripada batik hasil kreasi anak negeri dikeluhkan oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI). Pemerintah pun disalahkan karena tidak memerangi serbuan batik China yang berpotensi menggusur batik dalam negeri. Padahal, batik murah buatan China dapat membantu rakyat kecil yang ingin mengenakan batik  Harga murahlah yang mereka unggulkan demi menarik minat masyarakat berdaya beli rendah.

Serbuan batik China tidak dapat disalahkan, karena itulah yang disebut persaingan. Globalisasi membuka pintu bagi negara lain untuk bersaing di Indonesia. Jika batik Indonesia ingin bertahan dari gempuran batik China, maka harus Indonesia harus menyiapkan strategi untuk meladeni persaingan global ini. Apabila kualitas yang diinginkan konsumen, buatlah batik berkualitas! Bila harga ekonomis yang dicari konsumen, maka buat pula batik yang berkualitas rendah dengan harga terjangkau untuk menyaingi murahnya harga batik China. 

Pemerintah Jangan Diam Saja!

Generasi muda perlu belajar ilmu membatik.
Sumber: antaranews.com
Pemerintah yang selama ini dikambinghitamkan karena tidak mampu berbuat apa-apa sebaiknya juga turut andil memajukan batik Indonesia. Salah satu langkah yang dapat ditempuh misalnya dengan meningkatkan popularitas batik di kalangan pemuda dengan cara menyisipkan ilmu membatik dalam kurikulum seni rupa. Dengan begitu, generasi muda dapat mengetahui cara pembuatan batik tradisional yang menggunakan canting serta malam, kemudian menurunkannya kepada generasi selanjutnya.

Cara selanjutnya ialah dengan menjadikan batik sebagai trend berpakaian di kalangan pemuda. Dengan begitu, niscaya batik akan dicintai dan lebih banyak anak-anak muda yang mempelajari batik dan menyuarakan batik Indonesia di masyarakat. Semakin populer batik, semakin tinggi permintaan masyarakat akan produk batik  Semakin banyak orang yang belanja batik, maka penjual batik baik toko batik, butik batik, maupun toko batik online akan semakin menjamur. Bila batik Indonesia lebih laku di pasaran, batik China pun tidak akan bertahan di toko-toko batik Indonesia. Metode lain yang dapat dicoba adalah dengan membatasi peredaran batik China atau menaikkan bea masuk produk batik dari China. Dengan begitu, harga batik China akan naik dan konsumen lebih memilih produk batik dalam negeri.

Kesimpulan

Memiliki batik yang indah hasil karya anak bangsa banyak diidam-idamkan sebagian kalangan masyarakat bawah yang juga ingin berbatik. Namun karena terganjal harga yang mahal membuat mereka beralih ke batik China yang harganya jauh lebih murah. Dari segi harga, batik produksi dalam negeri pun kalah bersaing. Untuk mempertahankan eksistensinya di masyarakat, para pengrajin batik  pemilik butik batik, dan didukung pemerintah harus menyusun strategi supaya batik Indonesia mampu bertahan di kancah persaingan global. Generasi muda pun turut memegang peran dalam melestarikan batik Indonesia.

Mari dukung batik Indonesia supaya dapat menghasilkan batik berkualitas dan terjangkau demi lestarinya batik!!!
Previous
Next Post »

2 comments

Click here for comments
nasir buana
admin
24 April 2013 16.43 ×

kata siapa smakin tengglam... ??

salam batik lovers www.batikmuda.com

Reply
avatar
26 April 2013 17.15 ×

Maksudnya bukan begitu mas, maksud saya, dalam pembahasan ini saya mendiskusikan pertanyaan "Apakah batik akan tenggelam dan kalah bersaing dengan batik dari China?".
Tapi akan saya pertimbangkan utk mengganti judulnya. Trims kritiknya...

Reply
avatar
Thanks for your comment