Dilema di Ranah Agraria

foto: bisnis.news.viva.co.id

"Indonesia terkenal sebagai negara agraris, yaitu negara yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani."

Kalimat inilah yang melekat pada nama Indonesia sejak kita masih kecil, setidaknya sampai populasi petani kita yang semakin terusir oleh pabrik-pabrik industri. Berabad-abad lamanya Indonesia berbangga karena memiliki tanah surga yang subur, dan matahari yang bersahabat dengan tanah air. Tetapi apakah negara agraris masih layak dinobatkan kepada bangsa ini?


Melihat realita, di era modern ini kemajuan di bidang industri lebih populer dibandingkan dengan pertanian. Hal itulah yang mendesak kekuatan agrari nasional. Lahan pertanian yang selama ini dinikmati sebagai sumber penghidupan petani banyak tergusur menjadi kawasan industri. Kesejahteraan petani pun jauh dari harapan. Keringat yang diperas habis dibayar dengan upah yang minim. Petani pun kini dikenal dekat dengan kemiskinan.

Sektor pertanian Indonesia kian keropos bersama dengan melemahnya daya tani bangsa. Betapa tidak? Rata-rata usia petani adalah 45 tahun. Kekuatan garuda muda tidak banyak diserap untuk pertanian. Ditambah lagi merosotnya jumlah petani Indonesia, yang berdasarkan data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), di tahun 2011 jumlah petani turun 2,16 juta (5,2%), menjadi 39,33 juta. Minimnya teknologi pun semakin memperburuk kondisi pertanian. Para petani belum dapat menikmati perkembangan  teknologi di bidang pertanian, memaksa mereka tetap mempertahankan sistem pertanian tradisional. Petani-petani tua yang jumlahnya semakin menipis pun berjuang keras "mengumpani" dua ratus juta rakyat Indonesia dengan hanya berbekal bajak dan cangkul.

Begitulah gambaran kondisi pertanian Indonesia, dimana negeri ini sebenarnya memiliki potensi besar dalam hal ketersediaan lahan dan dukungan iklim, namun tidak dimanfaatkan untuk membangun pertanian yang kuat. Dunia agraria seringkali tidak dipandang oleh kaum penerus, hanya digarap oleh sayap-sayap rapuh dari garuda renta yang letih.

Dari ulasan singkat tersebut, dapat disimpulkan penyebab lemahnya pertanian bangsa, yaitu kekuatan petani. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan dalam arti otot-otot petani tua yang masih diandalkan karena tenaga kerja dari generasi muda yang enggan melirik lahan pertanian. Petani kian tua dan sedikit. Itulah yang menghambat kemajuan pertanian Indonesia. Kekuatan selanjutnya adalah fasilitas teknologi di bidang pertanian yang seharusnya diberdayakan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian agar lebih produktif.

Permasalahan-permasalahan tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain menyebabkan kondisi pertanian Indonesia kian dilematis. Sebagai ilustrasi, permasalahan-permasalahan tersebut saya gambarkan dalam bagan berikut.

Kita tentu tidak menginginkan kondisi pertanian kita terus seperti ini. Oleh karena itu setiap elemen bangsa, mulai dari pemerintah, para petani, dan tidak lupa generasi muda ikut bahu membahu dalam memajukan pertanian negeri. Semoga dengan kerjasama yang kompak dari otot-otot negara, pertanian Indonesia kembali berjaya.




Referensi:
  • Muspriyanto, Edy. Petani Menipis di Negeri Agraris. Suara Merdeka.com, 11 Maret 2012. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/03/11/179899/Petani-Menipis-di-Negeri-Agraris
  • Ant. "HKTI: Jumlah Petani Indonesia Terus Turun". http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/08/79453/hkti_jumlah_petani_indonesia_terus_turun. (8 Oktober 2012)
Previous
Next Post »