Sekolah Dambaan dalam Lamunan


Sekolah Dambaan dalam Lamunan


          Sekolah, dimana aku tengah duduk di dalamnya, di atas bangku kayu panjang menyamping dengan temanku di sisi lain. Celingukan aku saat sebaris tanya tiba-tiba melintas di pikiranku, tentang bagaimana sekolah dambaanku. Mungkin pertanyaan ini terdengar mudah dan sepele, tetapi entah kenapa aku kesulitan mencari jawabannya. Sambil melongok kanan kiri mencari inspirasi sesekali aku mengeluh dalam hati atas kekalahanku untuk pertanyaan remeh seperti ini.

          Pandanganku beralih ke luar jendela, di seberang jalan kulihat sekolah tetangga. Sekolah itu tidak berbeda jauh dengan sekolahku. Bangunan bercat kusam dan berantakan oleh dedaunan dari pohon beringin besar di sampingnya. Lapangannya cukup luas, sekitar dua petak lebih luas dari lapangan sekolahku. Disana juga dihinggapi pedagang-pedagang jajanan yang menanti waktu istirahat. Sampah makanan terlihat berserakan di pinggir lapangan, di bawah gerobak-gerobak jajanan itu. Hahaha… Aku tertawa jahat atas kotornya tempat itu. Setidaknya aku bersyukur sekolahku masih lebih baik.

          Meskipun sangat sederhana, fasilitas minim, dan seringkali kerepotan apabila tetesan air menyempil di celah atap kala hujan. Tak masalah, yang penting sekolahku masih berbentuk sekolah. Ada ruang kelas, bangku, meja, papan tulis, dan buku-buku. Itu saja cukup! Walaupun terkadang, kami cuma bisa gigit jari saat membaca buku TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Ya, hanya itulah yang bisa kami lakukan saat pelajaran TIK. Sedangkan pelajaran IPA kami masih memiliki alat-alat peraga hasil kreativitas siswa sendiri. Tanpa laboratorium pun praktikum tetap dapat dilakukan di dalam kelas, atau di lapangan dengan peralatan seadanya.

          Oh Ya! Segi fasilitas sepertinya wajib dipertimbangkan untuk sekolah dambaanku. Sekolah dambaanku harus punya berbagai laboratorium lengkap dengan peralatan-peralatan pendukung pembelajaran. Terutama lab komputer plus internet super cepat. Jadi kami bisa melihat indahnya dunia luar yang katanya semakin modern dan praktis. Fasilitas lainnya yang tidak kalah penting, yaitu media pembelajaran yang lebih variatif, tidak hanya buku. Bisa berupa video, multimedia, atau sistem e-learning yang katanya sangat menarik dan interaktif. Boleh juga kalau setiap siswa disediakan Tablet PC. Ini kan abad 21, era serba digital. Kertas sudah tak jaman, tak ramah lingkungan, bisa bahayakan hutan.

          Sekolah dambaanku juga harus memiliki lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk belajar. Menurutku lingkungan itu penting. Bagaimana bisa belajar kalau suasana lingkungan tidak mendukung? Makanya, lingkungan memegang andil dalam kelancaran proses pembelajaran. Pertama, lingkungan sekolah dambaanku harus bersih dan sehat. Kedua, suasananya harus tenang. Ketiga, lingkungannya hijau, dan asri. Dengan begitu, belajar bisa lebih fokus dan menyenangkan. Kalau bisa, dibangun taman dengan pepohonan serta bunga-bunga nan cantik. Pasti aku akan lebih betah di sekolah.

          Tinggalkan dunia khayalan sejenak, perhatian kualihkan kembali pada Pak Guru yang sedang mengajar matematika. Namun tidak ada ketertarikan kudapati dari materi yang beliau sampaikan. Kata-katanya begitu cepat, belepotan tak karuan. Sulit aku pahami hitung-hitungan yang ia jelaskan. Beberapa temanku bahkan sampai tertidur pulas di atas meja dengan berbantal buku matematika yang tebal. Ingin rasanya kusampaikan keluh padanya, agar bicara lebih lambat dan mudah dipahami. Tetapi apa daya, guruku itu sedemikian tidak peduli pada kapasitas otak siswanya. Kami para murid yang terjepit oleh kebodohan seperti ditarik paksa. Bukannya terlepas, justru semakin sakit. Alhasil,  menyontek pun menjadi senjata rahasia untuk menaklukkan ujian. Sebenarnya tak enak juga rasanya di hati, tapi apa boleh buat? Materi yang disampaikan Pak Guru tidak ada yang ‘nyantol’ sama sekali!

Kalau boleh curhat, sejak dulu aku belum menemukan sosok guru dambaanku. Guru yang benar-benar dekat seperti sahabat. Selama ini guru yang aku ketahui adalah seseorang yang menjelaskan sesuatu, lalu menyuruhku menghafal, menghitung, dan mengerjakan tugas. Tidakkah ada di dunia ini guru seperti yang aku dambakan? Guru yang bukan memerintah, tapi mengajak. Guru yang bukan mengajar, tapi membimbing. Guru yang bukan hanya ingin diperhatikan sendiri, tetapi juga mau memperhatikan siswanya. Guru yang down to earth, mau bergaul dan merangkul kami siswa-siswi bodoh untuk kemudian dituntun dengan sabar mengumpulkan keping-keping pengetahuan di jalan pendidikan menuju masa depan gemilang.

          Kriiiing!!! Lagi-lagi lamunanku terganggu. Bel menjerit tanda beralihnya jam pelajaran. Aku pun mengabil buku sejarah di tas. Buku itu sangat berat. Aku jadi teringat tadi pagi, tasku putus talinya sehingga harus kujinjing. Tampaknya tak sanggup ia memikul beban sedemikian berat. Begitupun aku. Sekolahku menerapkan belasan mata pelajaran, yang artinya ada berbagai buku-buku paket yang harus dibawa. Tidak hanya beban buku, kesemua mata pelajaran juga membebani otakku yang dicekoki banyak ilmu. Suka tidak suka semua harus kutelan. Entah apakah akan terpakai nantinya, harus ditelan meski sulit dan pahit.

Cita-citaku adalah menjadi dokter. Maka, seyogyanya aku menekuni pelajaran biologi, matematika, kimia. Pertanyaannya, buat apa aku mempelajari sejarah, seni tari, tata boga, ekonomi, geografi, dan sebagainya? Apakah aku harus jadi orang serba bisa? Jadi ahli segalanya? Tentu aku tak kan mampu. Bahkan Einstein sekalipun, hanya menguasai sains. Bidang lain yang tidak diminatinya diabaikan saja.

Kalau melihat negara Amerika, katanya cuma ada tujuh pelajaran, Finlandia enam pelajaran, dan negara-negara maju lain yang mata pelajarannya tidak banyak-banyak, tetapi difokuskan pada mata pelajaran pokok serta disesuaikan menurut bakat dan minat siswa sehingga mampu melahirkan ahli-ahli dan spesialis-spesialis yang handal di bidangnya. Bukan cuma jadi kutu buku serba tahu yang cuma hafal bermacam teori.

          Aku mendambakan sekolah yang memfokuskan pendidikannya pada bidang tertentu saja. Adapun materi-materi yang kurang penting dan tidak diminati sebagian besar siswa sebaiknya dihapuskan dari kurikulum. Misalnya seni musik/tari, tata boga/busana, dan agama bisa dialihkan ke ekstrakurikuler. Dengan demikian pelajaran-pelajaran pokok dapat dimaksimalkan. Penjurusan pun sebaiknya dimulai sejak kelas 1 SMA agar siswa bisa belajar sesuai passion mereka dan dengan senang hati tanpa paksaan.

          Balik lagi ke pelajaran sejarah, Bu Guru memberikan tugas dari buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Jujur saja aku paling benci tugas seperti ini. Sebenarnya aku senang mengerjakan karena memberiku kesempatan bereksplorasi secara mandiri. Tetapi kalau tugas diberikan berupa soal-soal, jujur aku kurang suka. Tugas semacam ini dikerjakan dengan menyalin kalimat-kalimat dari buku paket untuk dipindahkan ke titik-titik isian pada soal. Sungguh membosankan! Pastinya aku tidak mau hal ini terjadi pada sekolah dambaanku.

Sekolah dambaanku harus memberikan tugas yang menyenangkan berupa aktivitas-aktivitas menarik. Untuk pelajaran sejarah misalnya, bisa berupa kunjungan ke museum atau situs-situs sejarah terdekat, observasi, atau wawancara. Selain asyik, bisa memperluas wawasan dan pengalaman. Tugas juga jangan hanya dilaporkan secara tertulis, tapi juga secara lisan. Bisa dengan bercerita atau presentasi di depan kelas. Sekalian melatih kemampuan berbicara, dan mencegah praktik menjiplak.

          Bicara soal menjiplak, dalam dunia sekolah hal ini sudah biasa. Bibit-bibit korupsi ini tumbuh subur di kegiatan sekolah, terutama saat ujian. Menjiplak atau mencontek atau sejenisnya lumrah dilakukan saat ujian. Demi kelulusan, apapun rela dilakukan meski lewat jalur haram. Mungkin inilah penyebab kotornya pemerintahan Indonesia saat ini, karena para pemimpin kita terbiasa berbuat curang di sekolah. Amit-amit!!! Mudah-mudahan temanku sekalian calon-calon pemimpin masa depan tidak demikian.

          Agar pendidikan Indonesia tidak menumbuhkan jiwa-jiwa korupsi, pendidikan karakter juga perlu diaplikasikan di setiap kegiatan pembelajaran. Salah satunya kegiatan ujian. Sebisa mungkin pengawasan diperketat agar ide untuk mencontek tidak terlintas sedikitpun di benak siswa. Hukuman juga perlu diberikan secara tegas bagi pelaku kecurangan.

          Ujian kelulusan untuk sekolah dambaanku tidak hanya berupa ujian tertulis, tetapi juga ujian lisan dan praktik. Ujian tertulis berupa uraian, bukan pilihan ganda yang rentan kebocoran. Kelulusan juga tidak diputuskan dari hasi ujian nasional, melainkan ujian sekolah dan nilai hasil pembelajaran dari rapor. Karena sekolahlah yang lebih mengenal kemampuan siswa, sekolah juga yang menentukan kelulusan.

          Sepertinya lamunan tentang sekolah dambaanku hanya cukup sampai disini. Aku harus mengerjakan tugas! Mungkin sedikit kusampaikan harapanku untuk pendidikan Indonesia sebagai kata-kata terakhir.

“Aku mengharapkan Indonesia membuka mata dan melihat sistem pendidikan negara lain. Kalau bangsa lain mampu menghasilkan bibit-bibit unggul untuk kemajuan negara dengan sistem pendidikannya, mengapa tidak kita contoh? Mengapa kita masih bertahan dengan sistem amburadul yang tidak membuktikan kualitasnya dalam mencetak generasi emas? Jadikan kesuksesan pendidikan negara lain sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi sistem pendidikan kita. Semoga Indonesia mampu menghasilkan putra-putri unggul yang lahir dari pendidikan yang terus dikembangkan sebagai tenaga untuk memajukan negeri. Karena SDM berkualitas lahir dari pendidikan berkualitas.”

Poster Sekolah Dambaanku Blog Competition

Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
25 Juni 2013 23.36 ×

Visit here http://auliasuciwardina.blogspot.com/2013/05/sekolah-dambaan-itu-seperti-apa.html

Congrats bro Aulia Suci Wardina you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Thanks for your comment