Menjangkau 3 Juta Orang yang Tak Terjangkau

Hari TB sedunia yang jatuh pada 24 Maret mengingatkan kita kembali akan ancaman serius Tuberkulosis (TB) terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup umat manusia. Pasalnya, TB bukan hanya masalah di satu negara atau kawasan, tetapi seluruh dunia saling bahu membahu untuk melawan TB. Fokus yang besar dari dunia kepada penyakit ini tidaklah berlebihan mengingat TB adalah penyakit terbesar kedua setelah HIV/AIDS yang menjadi pembunuh dengan agen penularan tunggal[1].

Banner Hari TB
Gambar 1
Banner Hari TB

Momen hari TB ini dimanfaatkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengajak semua orang menemukan, mengobati, dan menyembuhkan TB melalui tagline "FIND. TREAT. CURE TB." Dengan ini dunia menghimpun kekuatan dan menyusun strategi global untuk bersama-sama membebaskan umat manusia dari TB melalui pencegahan, perawatan, dan pengendalian TB mulai tahun 2015 dengan satu visi bersama:
"A world free of tuberculosis – zero deaths, disease and suffering due to tuberculosis." (Dunia bebas tuberkulosis - nol kematian, penyakit, dan penderitaan akibat tuberkulosis)[2].

Kenali TB

Mycobacterium tuberculosis penyebab TB
Gambar 2
Mycobacterium tuberculosis penyebab TB
Tuberkulosis bukanlah penyakit langka, melainkan penyakit umum yang menyerang banyak orang, baik disadari maupun tidak. Kemampuan bakteri TB menjangkit banyak orang tidak lepas dari medium penularannya yang sangat potensial untuk menyebarkan penyakit, yaitu udara. Mycobacterium tuberculosis - bakteri penyebab TB - dapat menular dari seseorang melalui batuk, bersin, atau meludah yang menyebar sel-sel bakteri ke udara[1].

Mudahnya penularan TB mampu melipatgandakan jumlah penderitanya karena 1 orang yang mengidap TB dapat menularkan bakteri TB kepada 10 sampai 15 orang di sekitarnya dalam setahun melalui kontak jarak dekat[1]. Itulah mengapa jumlah pengidap TB yang terserang penyakit ini mencapai 9 juta orang[3].

Prestasi dan Tantangan

Kesungguhan upaya dunia menekan jumlah penderita TB berbuah manis dengan terciptanya statistik positif yang cukup memuaskan. Angka kematian akibat TB berhasil ditekan sebesar 45% sejak 1990 sampai 2012. Sekitar 22 juta jiwa pun terselamatkan berkat strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy) dan Stop TB yang direkomendasikan WHO[1].

Pencapaian dan tantangan
Gambar 3
Pencapaian dan tantangan

Di Indonesia sendiri, kasus TB menurun seiring dengan peningkatan kualitas penanganan pasien TB. Kasus TB di Indonesia tahun 2012 adalah 185 dari 100.000 penduduk. Angka ini menunjukkan kemajuan jika dibandingkan kasus yang terjadi pada 1990 yang mencapai 206 dari 100.000 penduduk[4]. Tidak hanya itu, sejak tahun 2010 Indonesia mencapai prestasi dalam penyembuhan TB dengan angka kesembuhan mencapai 87% dan menjadi contoh keberhasilan sebuah negara yang mampu menurunkan jumlah penderita TB secara signifikan, baik melalui pendeteksian dini maupun pengobatannya[5].

Prestasi yang telah dicapai jangan sampai membuat kita puas karena masih ada tantangan yang kita hadapi. Banyaknya jumlah pasien yang belum terjangkau perawatan medis masih harus kita cari solusinya. Selain itu, penanganan yang kurang baik seperti pengobatan yang tidak tepat dan pemberian obat yang tidak rutin akan memperparah tingkatan TB yang diderita pasien menjadi MDR-TB (Multidrug-resistant Tuberculosis), yaitu Tuberkulosis yang kebal terhadap dua obat anti-TB standar terkuat yaitu isoniazid dan rifampicin[1]. Penderita MDR-TB di dunia pun tidak sedikit jumlahnya, yaitu sekitar 450.000 orang pada tahun 2012[6].

Penanganan adalah Kunci Kesembuhan

Memang dalam penanganannya, pasien harus diberikan perawatan intensif jangka panjang. Antibiotik pun tidak boleh lepas dari konsumsi pasien selama 6-8 bulan. Kontinuitas konsumsi obat-obatan juga sebaiknya diawasi oleh pendamping dari kalangan kerabat dekat karena jika pasien rutin minum obat, peluang sembuh semakin besar.

Namun sayangnya, berdasarkan data WHO tahun 2013 dari 9 juta orang yang terjangkit penyakit, 3 juta di antaranya tidak terjangkau dan tidak mendapat perawatan yang cukup sebagaimana yang dibutuhkan. Karenanya kita harus saling bahu membahu menemukan penderita TB yang belum tersentuh penanganan medis.

Temukan Pasien TB di Sekitar Kita

Kita bersyukur atas kualitas penanganan yang baik oleh para penyedia layanan kesehatan masyarakat, organisasi-organisasi yang membantu pengendalian TB, juga fasilitas pendukung yang diberikan pemerintah. Tetapi di luar sana jutaan pengidap TB menangis saat TB menggorogoti tubuhnya. Sungguh tidak adil bukan?

Marilah kita buka mata lebar-lebar, jangan sampai kita membiarkan pengidap TB ditimpa kemalangan tanpa ada yang membantu merawatnya. Carilah di sekitarmu. Adakah keluargamu, teman, kolega, atau tetanggamu yang mengidap TB. Kita bisa mendeteksi penderita TB dengan melihat gejalanya. Adapun gejala orang yang terserang TB yaitu:
  • batuk kronis,
  • dahak bercampur bercak darah,
  • berkeringat di malam hari,
  • berat badan menurun.
Orang yang terinfeksi TB berpeluang terserang penyakit Tuberkulosis sebesar 10%[1]. Hal tersebut turut dipengaruhi oleh faktor kekuatan imun. Pengidap HIV/AIDS berpeluang lebih besar untuk terinfeksi. Begitu pula dengan pengidap diabetes, malnutrisi, dan perokok[1]. Oleh karena itu, kita perlu memulai aksi dari diri sendiri dengan selalu menerapkan pola hidup sehat dan mewaspadai penularan TB. Setelah itu, kita ingatkan yang lain akan bahaya TB, temukan pengidap TB, jangan sampai mereka tidak terjangakau penanganan medis dan bantu mereka meraih kesembuhan.

Ayo... Temukan 3 juta pengidap TB yang belum mendapat penanganan!

Gambar 4


Referensi:

[1] Tuberculosis Fact Sheet (Lembaran Fakta tentang TB) oleh WHO Media Center.
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/

[2] Global strategy and targets for tuberculosis prevention, care and control after 2015
http://www.who.int/tb/post2015_tbstrategy.pdf?ua=1

[3] TB Day Brochure (Brosur Hari TB)
http://www.who.int/campaigns/tb-day/2014/tb-day-brochure.pdf

[4] Kasus TB di Indonesia Turun.
http://www.tbindonesia.or.id/2014/04/01/kasus-tb-di-indonesia-turun/

[5] Indonesia Menjadi Contoh Keberhasilan Negara Memerangi Tuberkulosis
http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2381

[6] What is multidrug-resistant tuberculosis and how do we control it?
http://www.who.int/features/qa/79/en/


Sumber Gambar:
Gambar 1: who.int
Gambar 2: wikipedia
Gambar 3: who.int
Gambar 4: dok. penulis
Previous
Next Post »
Thanks for your comment