Cerpen: Nasi, Tahi Laler, dan Monyet Terbang

Buat kalian penggemar cerpen mulanovich (itu juga kalo ada), cerpen kali ini sangat spesial. Karena temanya komedi dan berbau absurd. Gaya bahasanya juga santai dan ceritanya seputar kehidupan remaja zaman sekarang. Tapi maaf kalau ada yg nggak jelas atau garing.
Silakan disimak :)

Nasi, Tahi Laler, dan Monyet Terbang

karya: Muhammad Labib Naufaldi

Cerpen Nasi, Tahi Laler, dan Monyet Terbang
ilistrasi oleh: Mulanovich


“Aww!” jerit gua saat es batu menyentuh luka di pelipis kiri gua yang memar.

“Aduh, sakit ya?” tanya pacar gua sambil pelan-pelan menempelkan es untuk mencegah bengkak di wajah gua. Meski gua meringis-ringis merasakan perih, gua tahan sakit ini sebisa mungkin untuk menjaga image sebagai pahlawan.

“Ah, ini nggak seberapa, kok. Satu-satunya rasa sakit bagi aku adalah kalau kamu meninggalkan aku.”

Plakkk!!! Suara telapak tangan cewek gua yang menampar paha gua dengan kencang sampai suaranya nyaring. “Iihh, kamu bica aja ciii…” kata cewek gua  dengan gaya lenjeh.

Cewek gua itu memang paling suka digombalin. Untung gua jago membuat rayuan-rayuan gombal yang bisa membuat wanita mabuk kepayang.

Nama cewek gua Mandy (dibaca Mendi), tapi panggilan sayang gua ke dia adalah Indy. Soalnya kalau gua panggil dia “Man!”, takutnya nanti dikira Maman. Apalagi kalau gua panggil “Men!”, lebih parah! Bisa-bisa dikira cowok. Kalau “Di!”, nanti dikira Tukidi. Sedangkan Tukidi itu kan nama babe gua, dan babe gua sendiri malu dengan namanya itu. Makanya, beliau menggunakan nama gaul “Kiday” sebagai nick name di geng bapak-bapak alay.

Kembali lagi ke cewek gua, Indy. Gua sayaaang banget sama dia, meski kita berdua banyak perbedaan. Pertama, dia cewek, dan gua cowok. Kedua, dia juga cantik, sedangkan gua ganteng. Ketiga, dia anak orang kaya, sedangkan gua cuma anak emak gua. Terakhir, dan yang paling penting adalah dia suka anak-anak, sedangkan gua paling benci sama yang namanya anak kecil.

Bagi gua, anak kecil itu seperti setan yang memancing kesialan datang menghampiri gua. Gua sampai babak belur begini juga karena anak kecil.

Ceritanya dimulai tadi pagi. Gua yang berencana jalan sama Indy sedang bersiap-siap dengan kemeja putih garis-garis biru yang selalu gua pakai saat nge-date sama Indy. Meski Indy sering mengeluh, “Ayang, kok bajunya itu-itu terus sih? Bosen tau…” tapi gua tetep suka sama baju ini. (Alasan lain karena baju gua cuma sedikit, dan ini satu-satunya baju yang bersih dan nggak dekil)

Setelah merasa kegantengan gua meningkat sejuta persen, gua langsung sarapan buru-buru, terus berangkat naik motor bebek kesayangan gua. Tapi sebelum gua tancap gas, tiba-tiba emak memanggil, “Bejo!!!”

Gua pun turun dari motor, lalu masuk ke rumah dan berkata, “Mak, kan udah berkali-kali aye bilang, panggil aye ‘John’! Jangan ‘Bejo’!”

“Alah, nama aje lu permasalahin. Itu motor jangan lu pake!” ujarnya.

“Kenapa, Mak?” tanya gua penasaran.

“Emak mau ngambil rapot ade’ lu. Udah, lu naik angkot aje sono!”

Gua pun mengawali hari yang buruk karena anak umur 7 tahun, tapi mau gimana lagi? Dia adek gua sendiri. Nggak ada yang bisa gua lakukan selain mengalah.

Kekesalan kepada adik gua terus meletup-letup sampai di perjalanan gua menuju café tempat janjian sama Indy. Sialnya, saat di angkot, tepat di depan gua duduk seorang wanita yang memangku anak kecil, umurnya sekitar 4 atau 5 tahun. Anak itu pandangannya nggak pernah lepas dari muka gua. Dengan wajah seperti terheran-heran dia menatap gua, tapi gua tetep cool and calm karena dia ada di pangkuan mamanya dan nggak akan bisa menyentuh gua.

Dalam hati gua pun bergumam, “Haha, dasar anak kecil! Baru pertama kali liat orang seganteng gua ya? Wakakak…”

Tingkat kepedean gua pun meningkat drastis. Kepala gua sedikit mendongak ke atas sambil celingukan ke kanan dan kiri untuk pamer kegantengan. Alhasil gua pun menjadi pusat perhatian para penumpang angkot yang mayoritas wanita.

Tiba-tiba si bocah menunjuk muka gua seraya berkata, “Ma, itu tahi lalerr!”

Karena bingung akan ucapan anak itu, pandangan gua beralih ke ibunya, tetapi si ibu justru tersenyum misterius. Dalam hati gua terheran-heran, karena bocah itu bilang ada “tahi laler” di muka gua. Dari situ muncul ribuan spekulasi akan maksud si bocah.

Mungkin bocah itu terpesona dengan tahi lalat yang menjadi aksesoris penghias muka gua. Tapi selama 19 tahun gua ngaca, nggak pernah terlihat adanya tahi lalat di muka gua. Kemungkinan lain yaitu si bocah baru mengenal kata tersebut, makanya dia sering menyebut-nyebut kata itu. Atau mungkin juga bocah 5 tahun itu baru belajar bilang huruf “R” dengan benar alias nggak cadel. Tapi kenapa dia harus bilang “laler”? Kenapa bukan motor, komputer, atau sebagainya? Kemungkinan terakhir yang paling mungkin, tampaknya anak itu ketagihan dengan menyebut kata “laler” yang menimbulkan sensasi getaran di bibir yang menyebabkan rasa geli. Maklum, namanya juga anak-anak. Tapi kenapa dia harus menunjuk ke muka gua?

Di tengah kebingungan bercampur penasaran, tiba-tiba tangan kecil si bocah mencubit pipi gua pelan-pelan. Bibirnya ngompleh alias sedikit terbuka sehingga gigi ompongnya kelihatan dan iler-nya membasahi pojokan kiri dan kanan bibirnya.

Cubitan si bocah ternyata bukan cubitan biasa. Dia bukan bermaksud nyakitin gua, tapi lebih parah lagi, dia mempermalukan gua di angkot penuh penumpang wanita! Bocah itu mengambil sebutir nasi dari pojokan kiri bibir gua. Di antara telunjuk dan ibu jarinya dia main-mainkan sebutir nasi putih yang masih lengket itu. Dua jarinya yang kecil-kecil menjepit nasi yang kemudian diarahkan masuk ke dalam mulutnya.

Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah menjadi seperti orang makan jeruk yang rasanya luar biasa kecut. Matanya terpejam, mukanya berkerut-kerut dengan lidahnya melet sedikit. Kemudian sebutir nasi itu dilepehnya dengan rasa jijik.

“Tahi laler nggak enak, Ma.” kata bocah itu berlagak polos. Si ibu pun tertawa kecil yang disambut senyum-senyum kecut penumpang lain.

Gua pun nggak kuasa menahan malu gara-gara bocah itu sehingga gua memutuskan untuk turun dan naik angkot lain.

Sepanjang perjalanan gua terus memaki-maki bocah itu dalam hati. Gua semakin yakin bahwa gua mengidap alergi terhadap anak kecil.

Kesialan gua belum berhenti sampai disitu. Gua masih harus menghadapi apes-nya hidup gua karena Indy membawa adiknya yang masih kecil. “Aduh! Bakalan kena sial lagi nih gua,”

Gua duduk di meja dekat air terjun buatan, dimana Indy sudah menunggu bersama adiknya. Tapi Indy nggak menyambut kedatangan gua dengan manis, tetapi dia malah memasang muka mengkerut.

“Yang, aku ke toilet dulu ya... Kamu tolong jaga adikku sebentar. Oke!” katanya sambil memegangi perutnya langsingnya.

Indy pun bergegas pergi karena sudah tidak kuat menahan panggilan alam. Kini gua tinggal berdua sama seorang monster kecil. Meski dalam hati gua merasa bete, tapi gua tetap berusaha ramah dan baik kepada adiknya Indy.

“Halo, ade’. Nama kamu Rian kan?”

“Iya,” jawabnya singkat. Ternyata dia nggak seburuk yang gua kira. Pantas aja Indy sering cerita kalau dia sayang banget sama adiknya yang imut ini.

“Nama kaka’ Bejo ya?” sambungnya.

“Eh, iya tapi panggilnya kaka John aja ya…”

“Nggak mau, Bejo aja!” dia malah membentak gua.

“Bejo-Bejo… Bejo-bejo…” ledeknya dengan nada yang nyakitin baget. Suaranya begitu keras sehingga pengunjung café lain dengar dan melihat ke arahnya.

“Be-E-Be, Je-O-Jo, BEJO!” Dia malah mengeja nama gua, kali ini dia joget-joget aneh. 

Gua pun semakin panas terbakar amarah, tapi gua berusaha sabar dan menenangkan bocah ngeselin itu.

“Rian, jangan berisik ya… Mendingan kita main,” ajak gua.

“Main kuda-kudaan!” teriaknya lantang.

“Aduh, jangan dong! Ini kan tempat umum, mendingan kita main tebak-tebakan.”

“Oke, tapi yang kalah jadi kuda!” dia tetap bersikeras main kuda-kudaan. Tapi gua menyanggupi tantangan itu, karena gua mahir bikin tebak-tebakan absurd dan yakin nggak akan kalah dari bocah 6 tahun.

“Yaudah, kaka dulu ya. Monyet-monyet apa yang rambutnya panjang?” tanya gua dengan percaya diri.

“Monyet gondlong!” sahutnya.

Gua pun ngakak sendiri karena jawaban Rian. Padahal sebenarnya jawaban yang sudah gua siapkan bukan itu, tetapi jawaban Rian lebih lucu dari jawaban gua. Ditambah lagi dia menyebutnya dengan cadel, membuat kalimat itu semakin menggelikan. Maka dengan jiwa sportif gua pun membenarkan jawaban itu.

“Hahaha… kok tau? Yaudah, sekarang giliran Rian yang kasih pertanyaan.”

“Monyet-monyet apa yang bisa telbang?” tanyanya dengan gaya khas anak kecil yang menjijikkan bagi gua.

“Monyet naik pesawat!” jawab gua.

“Salah!”

“Monyet pake baling-baling bambu!” gua coba kasih jawaban lain.

“Salah juga!”

Gua pun berpikir dan memberikan jawaban-jawaban yang paling absurd yang gua bisa, tapi dia terus aja bilang “Salah, salah, salah!”

Akhirnya gua menyerah, “Kaka nyerah deh… Emang jawabannya apa?”

Dia pun mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan dikibas-kibaskan. Mulutnya dimonyongkan beberapa senti, kemudian keluarlah jawaban atas tebak-tebakan itu yang mencuat dengan suara falset, “Bullung!!!”

Sejenak suasana menjadi hening. Satu-satunya yang ada di pikiran gua cuma burung, burung, dan burung. Monyet yang bisa terbang adalah burung, berarti monyet yang bisa loncat adalah kodok, dan monyet yang bisa berenang adalah ikan. Wew!!! Ternyata bocah ini lebih absurd dari gua!

Akhirnya gua pun menjadi tunggangan bocah yang tingkat keabsurdannya melebihi gua itu. Di punggung gua dia nggak berhenti loncat-loncat dan teriak-teriak. Mata gua ditutup dengan kain hitam sehingga gua merangkak tak tentu arah.

Tanpa gua sadari, gua menabrak sesuatu. Kemudian terdengar jeritan wanita, lalu gua merasa seperti ditendang oleh seseorang yang memakai sepatu high heels. Haknya yang runcing menusuk pipi gua sehingga guakesakitan.

Gua pun membuka penutup mata, dan sadar kalau gua sedang di kolong meja. Tiba-tiba meja di atas gua seperti dipukul dengan keras, membuat gua kaget setengah mati. Kepala gua pun terbentur meja.

Kemudian kaki gua diseret keluar dari kolong meja dan di depan gua berdiri seorang laki-laki kekar yang sedang marah.

“Berani-beraninya lu ye, ngintip cewek gua! Gua aja belom pernah! Dasar kurang ajar!”

Setelah itu gua tak sadarkan diri karena satu pukulan keras mendarat di pelipis kiri dan gua pun teler seketika.

Selang beberapa lama, gua terbangun di sofa empuk di rumah Indy.

“John cayang, kamu udah sadar? Syukur deh…” kata Indy lembut. “Aduh cayang, kamu kok hebat banget sih, belain adik aku dari preman. Aku makin cayaaang deh.”

“Ah, itu bukan apa-apa,” jawab gua meski sebenarnya gua nggak tau kenapa Indy bilang begitu. Mungkin Rian yang mengarang cerita heroik tentang gua tersebut.

Sudahlah, gua capek dengan kesialan yang menimpa gua hari ini. Lebih baik ambil hikmahnya, sekarang Indy makin sayang sama gua, dan mudah-mudahan calon mertua gua berubah pikiran dan bisa menerima gua.

“Luka kamu udah aku bersihkan waktu kamu pingsan tadi. Sekarang aku ambil es batu dulu ya, itu memar di muka kamu biar nggak tambah parah.”


Indy pun pergi ke lemari es di dapur. Dalam kesendirian gua berpikir, “Memang perjuangan itu membutuhkan pengorbanan.”
Previous
Next Post »
Thanks for your comment