Kebahagiaan Hakiki Datangnya dari Hati

Kebahagiaan | sumber: dok pribadi

Kebahagiaan merupakan sesuatu yang abstrak. Tolak ukur kebahagiaan tidak dapat ditentukan dengan pasti, hanya dapat dirasakan dengan hati. Tingkat kebahagiaan seseorang seringkali ditentukan oleh penilaian orang lain, namun hanya orang tersebut yang dapat merasakan seberapa besar kebahagiaan yang dimilikinya. Keceriaan memang dapat dijadikan parameter kebahagiaan seseorang, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa belum tentu yang terlihat dari luar mencerminkan apa yang ada di dalam hati seseorang.
Senyuman yang banyak dianggap sebagai simbol kebahagiaan, sayangnya seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi kesedihan dan memberi suatu citra tertentu di mata orang lain. Namun yang demikian itu lebih baik ketimbang mengumbar wajah yang miskin akan kebahagiaan. Setidaknya senyuman dapat menebarkan kebahagiaan bagi orang lain, dan mengingatkan kita bahwa bahagia itu sederhana, semudah kita senyum ketika melihat orang lain tersenyum.
Walaupun telah banyak kata-kata mutiara mengatakan bahwa bahagia itu sederhana, nyatanya masih banyak orang yang bersusah payah dalam mencari kebahagiaan yang hakiki. Berbagai hal dikorbankan demi mencari kebahagiaan. Banyak orang menghabiskan waktu, tenaga, dan uang ke tempat-tempat hiburan, namun yang mereka peroleh hanya kesenangan semu belaka. Akhirnya timbul pemikiran bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan uang, sehingga orang kaya diidentikkan dengan orang yang penuh kebahagiaan.
Sayangnya kenyataannya tidak demikian. Jika kebahagiaan dapat dibeli dengan materi, Chung Mong-Hun pemilik industri raksasa Hyundai, tidak akan bunuh diri dengan melompat dari gedung. Jika kebahagiaan dapat diraih dengan kekuasaan, Kim Jong-Un tidak akan memforsir negerinya untuk larut dalam permusuhan dan peperangan. Jika kebahagiaan datang bersama dengan ketenaran, Elvis Presley tidak akan mengonsumsi obat-obatan hingga overdosis. Jangan sampai kita keliru mengartikan kebahagiaan. Oleh karena itu pemahaman akan makna kebahagiaan menjadi hal yang penting untuk dilakukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terminologi kata “bahagia” itu sendiri berarti kesenangan dan ketenteraman hidup. Adapun filosofi kebahagiaan menurut Mahatma Gandhi adalah ketika apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita kerjakan berada dalam keselarasan. Sedangkan menurut ajaran agama Islam, kebahagiaan adalah kesucian qalbu (QS Asy Syams: 9-10). Dari berbagai pengertian tersebut, semuanya sama-sama mendefinisikan kebahagiaan sebagai suatu kondisi pada hati (rohani), karena memang bahagia itu asalnya dari hati dan dapat dirasakan dengan hati.
Kebahagiaan seseorang juga bergantung pada cara orang tersebut memandang kehidupan. Banyak orang yang salah persepsi dengan menggambarkan kebahagiaan sebagai kondisi dimana semua keinginan kita terpenuhi, dengan kenikmatan, dan terlampiaskannya nafsu. Jika seperti itu, maka tidak ada bedanya kita dengan hewan. Manusia dikaruniai lebih dari hewan yang hanya mementingkan kepuasa perut dan nafsunya. Manusia memiliki hati nurani. Inilah sumber kebahagiaan.
Kedamaian dan ketenangan hati adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Hal ini dapat dicapai dengan adanya hubungan baik antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dengan alam sekitarnya, dan dengan Tuhannya. Kebahagiaan yang berasal dari diri sendiri yaitu dengan memiliki tubuh yang sehat, jiwa yang tenang, dan terhindar dari berbagai penyakit fisik maupun rohani. Adapun kebahagiaan dari orang lain diperoleh dengan menjalin hubungan baik dengan keluarga serta masyarakat, menjaga perdamaian antar manusia, serta saling menyayangi satu sama lain tanpa adanya kebencian dan permusuhan. Alam sekitar juga merupakan sumber kebahagiaan dimana alam sejatinya telah menyediakan kehidupan bagi manusia. Apabila kita mampu bersahabat dengan alam, tentu kita terhindar dari musibah dan bencana alam yang dapat merenggut kebahagiaan. Sedangkan kebahagiaan yang diberikan oleh Tuhan adalah yang paling besar dan menjadi tujuan manusia hidup. Tuhan akan menganugerahi kebahagiaan kepada orang yang dikehendakinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dengan bersyukur atas segala pemberianNya, mendekatkan diri kepada-Nya, mengerjakan perintahNya, serta menjauhi laranganNya, manusia akan hidup dengan lebih terarah, karena agama tidak hanya mengatur perihal ibadah, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari. Hidup dengan tuntunan agama dapat menjaga kedamaian terjaga di dalam hati manusia.
Adapun hal-hal yang menjauhkan kita dari kebahagiaan adalah penyakit hati. Hati yang terkotori oleh berbagai sifat negatif akan kehilangan kedamaian dan ketenangan. Beberapa sifat yang dapat mengotori hati antara lain iri, dengki, dendam, sombong, serakah, khianat, dan sebagainya. Kita dapat menghilangkan sifat-sifat tersebut dengan senantiasa berpikir, berkata, dan berlaku positif. Meningkatkan rasa syukur dan merasa bahagia jika melihat orang lain bahagia adalah hal kecil yang dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dengan memperbanyak beramal, membantu orang yang kesulitan, membiasakan diri untuk selalu jujur, dan memperbaiki pergaulan.

6 komentar:

INSTAGRAM POST

@mlnaufaldi