Sekat Kanal Pencegah Kebakaran Lahan Gambut

"Ibarat spons, lahan gambut menyerap air ketika musim hujan, menyimpannya, dan melepaskannya ketika musim kemarau." ujar Arifin, Kepala Desa Sumber Agung saat menjelaskan apa itu lahan gambut kepada peserta.

Analogi spons ini pun membuat peserta workshop Qureta-Belantara semakin antusias dan penasaran ingin mengenal lahan yang rawan terbakar ini.

Tanah yang masih becek bekas hujan semalam tidak menyurutkan semangat mereka menyusuri panjangnya jalan setapak di tepi sungai. Sayup-sayup terdengar suara deru mesin dari dalam hutan. Di desa Kubu Raya, dimana hutan desa terluas di Indonesia itu tumbuh, suara gergaji mesin bukanlah hal asing. Itulah cara penduduk membangun peradaban di desa tertinggal ini: tebang kayu, tanam sawit, tanam harapan.

"Bib, ke hutan situ yuk." seorang peserta mengajakku sambil menunjuk ke arah hutan lebat itu.

"Ngapain?" tanyaku.

"Nonton balapan motor cross. Itu suaranya rame... wkwkwk"

*PLAK*

Sambil berpijak di empuk dan beceknya lahan gambut, beberapa peserta melontarkan berbagai pertanyaan seputar ekosistem dan aktivitas warga setempat. Namun satu hal yang sangat menarik perhatian mereka, ketika ketika perjalanan mencapai sebuah parit atau kanal yang cukup besar di tengah-tengah luasnya perkebunan sawit.

"Untuk apa parit ini Pak? Untuk irigasi kah?" seorang peserta mengajukan pertanyaan sambil menunjuk ke arah parit itu.

Tebakan yang sama terpikirkan di benak saya ketika melihat ada sebuah saluran air mirip sungai kecil di hadapan kami. "Kanal itu mungkin dibuat untuk keperluan irigasi lahan perkebunan kopi di sekitarnya." pikirku dalam hati.

Kanal itu terhubung dengan sungai, membentuk sebuah pertigaan yang tepat di atasnya terdapat jembatan. Aku pun melangkah ke jembatan itu, berharap mendapat view yang lebih baik. Dari atas jembatan terlihat keanehan dimana ada perbedaan ketinggian air yang mencolok antara kanal di depanku dengan sungai di belakangku.

Sungainya tidak kering, cukup basah oleh genangan air yang rendah. Sangat berbeda dengan kanal itu yang ketinggian airnya hampir-hampir mencapai jembatan yang aku pijak.

Kepala Desa pun berjalan sedikit ke pinggir kanal, hendak menjawab pertanyaan peserta tadi. "Ini adalah sekat kanal, sebuah sarana pencegah kebakaran lahan gambut" ujarnya sambil menunjuk kanal tersebut.

sekat kanal kebakaran gambut
Kanal di lahan gambut untuk mencegah kebakaran hutan

Secara singkat ia menjelaskan, kanal-kanal di lahan gambut berfungsi untuk menjaga lahan tetap basah. Kanal ini terhubung dengan air sehingga ketika hujan, kanal akan tergenang oleh air dari sungai. Saat musim kemarau, kanal diberi sekat sehingga genangan air di kanal tidak kembali ke sungai. Jadi, walaupun sungai mengering, kanal akan tetap basah. Air di kanal akan membantu melembabkan tanah di sekitar kanal. Air diserap oleh tanah untuk mencegah kekeringan lahan gambut yang beresiko kebakaran.

"Cara kerjanya begini, di sekat itu ada pralon sebagai pengatur ketinggian air di kanal. Jadi, ketika ketinggian air di kanal berlebih, maka air akan masuk ke pralon tersebut dan disalurkan ke sungai. Sebaliknya, ketika air di sungai lebih tinggi, maka akan mengaliri kanal." kepala desa lanjut menjelaskan.

Selain itu, ketika (amit-amit) terjadi kebakaran pun, petugas dan warga tidak kesulitan mencari sumber air karena dapat memanfaatkan air dari kanal tersebut. Api pun dapat dipadamkan dengan cepat.

sekat kanal kebakaran gambut
Pralon di sekat kanal untuk mengatur ketinggian air


Mengapa lahan gambut mudah terbakar?

Banyaknya material karbon organik seperti metana dan CO2 yang tersimpan di bawah lahan gambut menyebabkan lahan ini sangat mudah terbakar. Ketika kemarau tiba, titik panas api (hotspot) banyak timbul di hutan gambut. Bahkan ketika upaya pemadaman dilakukan, api yang terletak di dalam tanah akan sulit dideteksi. Sewaktu-waktu api dapat muncul kembali ke permukaan tanah dan membakar hutan. Sehingga cara terbaik mencegah terbakarnya lahan gambut adalah dengan menjaga lahan tetap basah. Kalaupun tetap terbakar, pengelola lahan dapat berupaya memadamkannya dengan kanal tersebut sebagai sumber air.

"Bagaimana agar air di kanal tetap menggenang, Pak?" tanya peserta lainnya. Pak Arifin kemudian menyingkir sedikit ke tepi kanal dan menunjuk bagian bawah jembatan.

"Antara kanal dan sungai dibuat sekat agar air di kanal tidak keluar ke sungai. Dengan begini, kanal tetap tergenang air meski sungai mengering." jawab Pak Arifin.

Untuk mengatur ketinggian dan mencegah air meluap dari kanal, pipa pralon dipasang di ketinggian tertentu. Air yang terlalu tinggi akan disalurkan ke sungai melalui pipa tersebut.

Metode ini cukup efektif mencegah kebakaran hutan. Tercatat sejak adanya sekat kanal, potensi kebakaran hutan sepanjang 2017 berhasil ditekan. Presiden Joko Widodo pun menginstruksikan pembangunan sekat kanal besar-besaran.

Jadi kesimpulannya, 
sekat kanal adalah sekat yang membendung kanal di lahan gambut yang berfungsi untuk menjaga lahan tetap basah sehingga kebakaran hutan dapat dicegah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM POST

@mlnaufaldi